Halaman

Teman teman..

silahkan di baca, diulek dan di bumbui...



Selasa, 17 Agustus 2010

kapan terakhir kali gitarku di stem...


kapan terakhir kali gitarku di stem...
penulis cumak bisa main gitar dikit dikit.

Pernah malu di kampus waktu main gitar, ada teman yang main gitar, hape adong senar na na (ternyata ada senarnya yang) fals, pittor gogo hudok (aku berteriak)..

"stem dulu gitar mu itu.!!"
dialusi (dia menjawab0
"stem ?, apa stem?" ninna (katanya)
"fals" nikku (kujawb)...
"oh.. di tuning" ninna (katanya)

maila au, holan di hutanta do hape istilah stem gitar melegenda... adong do istilah na asing (saya malu sebab istilah stem hanya ada dikampungku, ada istilah lain) a.l. tala, tune, stel, lan na asing.

gitar si 6 senar (atau 12) yang dimainkan dengan tangan kanan mempunyai susunan nada
E-A-D-G-B-e'

berbagai cara dilakukan/dipraktekkan orang untuk menstem gitar :
1. Di lapo di huta nami, pake pinggol, molo ndang boi pinggol sandiri, pinggol ni dongan.
(dikampung kami cukup pakai telingga, kalau bukan telinga sendiri, ya telinga nya teman)
2. Pake gitar ni dongan... di pas pas hon, asa boi mar duet gitarna, sada rambas sada melodi
(pakai gitar teman..)
3. Asa attar keren pake piano manang poti.
(pakai piano)
4. Pake digitar tunner, holan di solophon tu input nai pittor di paboa
(pakai tunner)
5. Asa songon na jago , pake garpu tala.
(pakai garpu tala)

molo akka datu holan di tabas, langsung harmonis do sude senar na i..
(kalau dia dukun, cukup di jampi - jampi, semua senar nya akan harmonis)

Sipata memang (kadang-kadang), gitar yang sudah di stem dalam kurun waktu tertentu mendat (kendor) sebahagian senar nya, ada factor mekanis ada faktor tangan jahil. Telinga kita sendiri hanya bisa membedakan nada dengar interval frekwensi ± 14 hz. Sehingga sering kali, telinga kita tidak cukup sensitive untuk berkata bahwa senar si ”dua” sudah fals, karena mungkin ke-mendat-an nya (sebutlah penurunan konsistensi) di bawah 14 hz. Sehingga sebenarnya untuk mendapatkan nilai pitch atau frekwensi atau tune yang benar kita butuh sesuatu yang mempunyai standard kalibrasi. Jaman sekarang ini, digital tunner lah kurasa.....

Oke amang, inang, kakak, abang, sudah terlalu jauh aku... pasti banyak diantara kita yang lebih kompeten untuk berbagi hal musik, stem dan lain-lain..

Cuman sedikit sharing untuk analogi dalam kehidupan kita, diri kita bagaikan sebuah gitar, mau itu gitar kapok, ramirez, yamaha, gibson (punyanya temanku), semuanya akan bisa dengan baik menghasilkan harmoni apabila setiap senar nya di kalibrasi dengar standard yang benar, paling tidak jarak relative antar senarnya..

Jadi katakanlah senar 1 adalah kehidupan spriritual, senar 2 kehidupan keluarga, senar 3 kehidupan pekerjaan/profesi, senar 4 kehidupan pelayanan, senar 5 hobby, senar 6 society, semuanya punya ekosistem sendiri yang menjadi satu dalam pribadi kita secara jasmani, spirit dan emosi... Cuman saya sering kali lupa untuk mengkalibrasi atau menstem diri saya sendiri... padahal kita punya alat kalibrasi yang jauh lebih ampuh dari sekedar hikmat kedigitalan, mekanikal, .... Tuhan kasih buat kita Firman yang berfungsi menegur sekaligus memperbaiki setiap senar dalam kehidupan kita...

Pertanyaannya buat saya, sudah sesering apa saya men-stem senar dalam diri saya dengan alat yang benar... bisa saya kehidupanku sudah tidak harmoni karna faktor mekasnisku atau faktor tangan jahil komunitasku, saya teringat dengan ayat ini

Maz 26 : 2 - 3
Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.

Kiranya setiap senar yang ada dalam hidupku berkenan padaMu...
Amin


js