Halaman

Teman teman..

silahkan di baca, diulek dan di bumbui...



Rabu, 25 Agustus 2010

Kobokan atau parbasuan…


Beberapa teman dari suku yang lain, selain batak sangat heran dengan parbasuan berjamaah yang sering kita lakukan (halak hita) di berbagai jamuan makan. Dengan kadar air yang marlamutak dan dengan NTU (Nephelometric Turbidity Unit) yang melebihi kekeruhan sungai di bojong koneng. Hampir bepuluh bahkan beratus tangan dimasukkan kedalam sambong (ember palastik) dan tangan yang sama akan digunakan untuk manyulang siallangon tu pamangan sendiri atau pamangan ianakhon.

Kenapa hal ini menjadi batu sandungan bagi mereka yang pertama kali melihatnya ? Mungkin alasannya hygienist menjadi pelaku utama. Dengan kata lain, sudah capek pendahulu kita untuk menemukan sendok dan garpu, masih saja si bataks ini makan pake tangan.. sama seperti komentar temanku dari negara lain, “peradaban eropa sudah menciptakan sendok dan garpu, tapi McDonald merusaknya dengan burger dan kentangnya”… daga….

Oke mari kita lihat sisi lain dari tradisi parbasuon itu… mungkin kalau di kota besar (ndang parhuta huta songon hami on), hal ini sudah tidak dilestarikan lagi. Tapi ada beberapa hal positive yang bisa kita ambil :


1. Menggantungkan keselamatan perut kita terhadap kebersihan tangan orang lain adalah masalah TRUST dan Pengudusan.


Coba bandingkan dengan Nats berikut ini :Lukas 11:38Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan


2. Menyatukan wadah parbasuan untuk banyak orang adalah SIMPLICITY.


Coba bandingkan dengan Nats berikut ini :
Roma 12:16
Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!


Terlepas dari parbasuan yang kotor, hendaklah kita juga mencermati pesan yang disampaikan dalam dua nats diatas. Ketika teman saya yang protes tentang parbasuan itu kepada saya, saya menjawab, orang batak bisa kotor tangan nya waktu makan, tapi hatinya bersih setelah dia berkata-kata, sama seperti Tuhan Yesus pada saat makan di rumah orang Farisi, Dia tidak mencuci tangan karna Dia ingin memberitahukan kepada mereka bahwa kebersihan jasmani penting, tetapi kebersihan HATI lebih penting.

Juga masalah kesederhanaan, sering kita beranggapan bahwa makan dengan sendok dan garpu yang terbuat dari sapilpil, perak bahkan emas merupakan standard keberhasilan, tapi hidup yang sederhana juga berkenan di hadapan Tuhan.

Pada akhirnya tulisan singkat ini akan di akhiri dengan satu ayat yang menjadi rema dalam pemuridan PRIA SEJATI (Chistian Mens Network).
1 Timotius 2:8
Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.

Tangan yang kotor oleh parbasuan yang kotor jauh lebih bersih dari tangan yang menampar istri, atau sesama.
Tangan yang kotor oleh kobokan dan sisa makanan, jauh lebih bersih dari tangan yang menandatangani akta kebohongan.
Tangan yang kotor oleh kobokan dan sisa makanan, jauh lebih bersih dari tangan yang melakukan percabulan.

Tangan yang berdoa dan menyembah Tuhan tidak sepantasnya digunakan untuk berbuat dosa,
masih lebih baik makan dengan tangan yang dicuci di parbasuan yang kotor...

Sudah cuci tangan hari ini ???


Js
balikpapan


Kamis, 19 Agustus 2010

Kurasa akupun bisa bersiul…

Kurasa akupun bisa bersiul…

Teknik bersiul yang seiring dengan teknik/kemampuan berbicara tumbuh dalam hadirat seseorang dan di dapat cuma cuma hanya dengan mendengar dan melihat orang lain melakukannya. Pada umur pra-talk, anak anak akan menirukan saja apa yang dia dengar dan lihat dari orang di sekitarnya khususnya orang tuanya. Tidak banyak yang menyadari bahwa siulan pun suatu mean untuk berkomunikasi…

Contohnya :
- memanggil burung anduhur..
- mamistak itoan-i... (mem-prikitiiw cewe)
- memberitahu secara tidak langsung kalau ada orang di kamar mandi.

Sepertinya siulan juga sudah lama masuk kedalam bagian dari suatu nyanyian, misalkan lah Wind of Change nya scorpion, New York New York, ... belum pernah dengar kalok lagu batak.

Secara rekonstruksi alat bunyi maka cara bersiul yang paling lazim adalah memajukan kedua bibir membentuk corong sehingga terbentuk rongga di antaranya dengan diameter lebih kurang setengah senti meter, lidah di tekuk sehingga ujungnya berada diantara pangkal gigi dan gusi bagian bawah, persis sewaktu melafalkan teknik ”a” dalam bernyanyi. Pernafasan yang digunakan adalah pernafasan dada, sehingga hitungan birama dari bersiul tidak akan lama... Saya membayangkan lagi lagi Over the Rainbow dinyanyikan dengan siulan di iringi gitar klasik dan biola sopran... sama seperti makan attajau muda (jambu batu muda) dengan kecap dan cabe... sodaf...

Ada korelasi yang pasti antara bersiul dengan suasana hati.. datung hea jolma na mangandungi dengan siulan....anggo pola adong na mangandung sambil mar-mil-mil, olo sundat ro ulos saput.... (tidak mungkin ada orang yang sedih sambil bersiul). Biasanya siulan terjadi pada suasana hati yang riang, aktifitas yang ringan dan menyenangkan... coba bayangkan bersiul sambil marhata sinamot (memberikan seserahan), kan ngga olo naik sinamot i ala ni sogo ni roha ? (kemungkinan seserahannya tidak diterima) Tapi di sisi lain, manifestasi dari kegembiraan tertinggi yaitu tertawa, tidak bisa di padankan dengan siulan, sebab tidak ada manusia yang bisa tertawa sambil bersiul..

Cukuplah pengantarnya... sotung sanga male.... (jangan sempat setengah lapar)

Percayakah kita kalau Allah-pun bersiul ?

Di Zakaria 10 : 8 dituliskan
Aku akan bersiul (hiss)memanggil mereka dan Aku akan mengumpulkan mereka, sebab Aku sudah membebaskan mereka, dan jumlah mereka menjadi banyak seperti dahulu.

Dalam perikop ini siulan yang digunakan sebagai kegembiraan Allah setelah Allah menyatakan pembelaanNya dan perlindunganNya terhadap umat pilihannya. Siulan ini jauh lebih bermakna dari sekedar siulan mamanggil anduhur/ambaroba...
Sebenarnya inti dari tulisan ini adalah, kesederhanaan sesuatu gerak/benda/kerja, katakanlah siul, bisa menjadi suatu yang sangat agung sesuai dengan karakter, sikap, motivasi dan kondisi si pelaku..
- siulan yang ditujukan kepada lawan jenis yang lewat didepan mata bisa menjadi penghinaan
- tetapi siulan yang ditujukan kepada seorang maestro yang selesai memainkan biolanya... akan menjadi makna yang tidak terlupakan.
Hal (prinsip) ini tidak hanya berlaku untuk mil-mil atau siul, bahkan lirikan, guman, tawa dan canda (sebab canda juga bisa berakibat negative bisa tanpa hikmat) atau hal yang lebih besar lainnya bisa menjadi lebih bermakna, apabila kita memberikan bobot baginya...

Daga.. ... kata pemazmur juga, burung bersiul dari antara daun daunan..... he hehehehe

js
(papa angelo, dan papanya jesse juga)

Selasa, 17 Agustus 2010

kapan terakhir kali gitarku di stem...


kapan terakhir kali gitarku di stem...
penulis cumak bisa main gitar dikit dikit.

Pernah malu di kampus waktu main gitar, ada teman yang main gitar, hape adong senar na na (ternyata ada senarnya yang) fals, pittor gogo hudok (aku berteriak)..

"stem dulu gitar mu itu.!!"
dialusi (dia menjawab0
"stem ?, apa stem?" ninna (katanya)
"fals" nikku (kujawb)...
"oh.. di tuning" ninna (katanya)

maila au, holan di hutanta do hape istilah stem gitar melegenda... adong do istilah na asing (saya malu sebab istilah stem hanya ada dikampungku, ada istilah lain) a.l. tala, tune, stel, lan na asing.

gitar si 6 senar (atau 12) yang dimainkan dengan tangan kanan mempunyai susunan nada
E-A-D-G-B-e'

berbagai cara dilakukan/dipraktekkan orang untuk menstem gitar :
1. Di lapo di huta nami, pake pinggol, molo ndang boi pinggol sandiri, pinggol ni dongan.
(dikampung kami cukup pakai telingga, kalau bukan telinga sendiri, ya telinga nya teman)
2. Pake gitar ni dongan... di pas pas hon, asa boi mar duet gitarna, sada rambas sada melodi
(pakai gitar teman..)
3. Asa attar keren pake piano manang poti.
(pakai piano)
4. Pake digitar tunner, holan di solophon tu input nai pittor di paboa
(pakai tunner)
5. Asa songon na jago , pake garpu tala.
(pakai garpu tala)

molo akka datu holan di tabas, langsung harmonis do sude senar na i..
(kalau dia dukun, cukup di jampi - jampi, semua senar nya akan harmonis)

Sipata memang (kadang-kadang), gitar yang sudah di stem dalam kurun waktu tertentu mendat (kendor) sebahagian senar nya, ada factor mekanis ada faktor tangan jahil. Telinga kita sendiri hanya bisa membedakan nada dengar interval frekwensi ± 14 hz. Sehingga sering kali, telinga kita tidak cukup sensitive untuk berkata bahwa senar si ”dua” sudah fals, karena mungkin ke-mendat-an nya (sebutlah penurunan konsistensi) di bawah 14 hz. Sehingga sebenarnya untuk mendapatkan nilai pitch atau frekwensi atau tune yang benar kita butuh sesuatu yang mempunyai standard kalibrasi. Jaman sekarang ini, digital tunner lah kurasa.....

Oke amang, inang, kakak, abang, sudah terlalu jauh aku... pasti banyak diantara kita yang lebih kompeten untuk berbagi hal musik, stem dan lain-lain..

Cuman sedikit sharing untuk analogi dalam kehidupan kita, diri kita bagaikan sebuah gitar, mau itu gitar kapok, ramirez, yamaha, gibson (punyanya temanku), semuanya akan bisa dengan baik menghasilkan harmoni apabila setiap senar nya di kalibrasi dengar standard yang benar, paling tidak jarak relative antar senarnya..

Jadi katakanlah senar 1 adalah kehidupan spriritual, senar 2 kehidupan keluarga, senar 3 kehidupan pekerjaan/profesi, senar 4 kehidupan pelayanan, senar 5 hobby, senar 6 society, semuanya punya ekosistem sendiri yang menjadi satu dalam pribadi kita secara jasmani, spirit dan emosi... Cuman saya sering kali lupa untuk mengkalibrasi atau menstem diri saya sendiri... padahal kita punya alat kalibrasi yang jauh lebih ampuh dari sekedar hikmat kedigitalan, mekanikal, .... Tuhan kasih buat kita Firman yang berfungsi menegur sekaligus memperbaiki setiap senar dalam kehidupan kita...

Pertanyaannya buat saya, sudah sesering apa saya men-stem senar dalam diri saya dengan alat yang benar... bisa saya kehidupanku sudah tidak harmoni karna faktor mekasnisku atau faktor tangan jahil komunitasku, saya teringat dengan ayat ini

Maz 26 : 2 - 3
Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.

Kiranya setiap senar yang ada dalam hidupku berkenan padaMu...
Amin


js

Minggu, 15 Agustus 2010

Doudou..

Doudou
(Sebuah Pelajaran sian/dari anak umur 3 tahun)

Doudou adalah kata dalam bahasa Prancis yang berarti selimut pelindung.
Dalam prakteknya "kata" ini berevolusi menjadi boneka kecil, manang mainan kesayangan untuk anak-anak.

Si dakdanak 3 taon (anak muda ni tulisan on) mempunyai doudou berbentuk bantal guling kecil yang dia pakai mulai dari mulai
lahir sampai dengan sekarang.

Mengapa itu menjadi suatu hal yang sangat penting bagi nya, inilah beberapa kondisi dimana dia meminta benda tersebut :
1. Ingin tidur dan ngantuk
2. Habis kena marah
3. Setelah terjatuh dari bermain
4. Di kendaraan karna harus duduk dengan tenang.

Hu pikkiri ma muse, aha do ulaning alana ? (Berpikir, kenapa ya ?)
mungkin benda itu yang bisa membuatnya tenang, nyaman, confort.

Ego seorang ayah langsung timbul (bukan bang Timbul Sitanggang), kenapa harus benda mati yang membuatnya tenang, bukan kah ada papa dan
mamanya yang selalu siap untuk menjadi pelampiasan ketidaknyamanan nya. oh.. ngeri nai hape..ngereee kalllee..
hea do hami ikkon mamutar sian sidikalang tu batu pitu lao tu medan, ala tinggal doudou na i di lapo par pinadaran di batu pitu.
(kami pernah memutar 14 km untuk menjemput doudou yang tertinggal tsb).

sangking berharga na doudou i, lebih penting do peluk doudou dari pada makan siang dan makan malam (he..he.. terlepas dari
sebagian besar anak susah makan).

Alai tong do sai ro pertanyaan i, boasa benda mati kadang-kadang lebih menenangkan sian Papa Mama ?
(Tetapi tetap timbul pertanyaan, kenapa kadang kadang benda mati lebih menenangkan dari Papa Mama ?)
Munkin on do jawabannya (mungkin jawabannya ini):
- Bantal guling tidak pernah marah-marah
- Bantal guling selalu ada walaupun sudah lelah dan dorun karna kena dede..
- Bantal guling selalu dalam bentuk yang sama walaupun dengan berbagai pencobaan, lemparan dan tendangan brutal.
- Bantal guling memberikan aroma yang nyaman walau pun tidak harum.

Oh.. boi ma nian au gabe (Saya berharap menjadi) orang tua yang mempunyai hikmat membimbing tapi mempunyai kapasitas pemberi kenyamanan seperti doudou..

selamat hari senin
Tuhan memberkati

js balikpapan

Kamis, 12 Agustus 2010

Metronomku Berdetak terlalu Kencang

Di khalayak orang yang sering bersinggungan dengan dunia pernyanyian dan permusikan kata metronome diartikan sebagai alat untuk melatih tempo dan kecepatan bermain musik. Alat ini adalah alat yang berdetak dengan tempo teratur, kecepatannya dapat diatur sesuai dengan keinginan orang yang menyetel nya… .
Metronom jaman sekarang sudah ada dalam bentuk digital, mekanikal, atau cining takal, dijabu nami koor barisan nauli, asbak kacca do diantuki amang Dirigent lao mambaen metronome na…. Guru kesenian ku waktu SMP mengambil gagang sapu dan memukulkannya ke papan tulis (tanpa menyebut nama)..

Dalam setiap rangkaian melody yang akhirnya disebut lagu, ada beberapa aturan yang dibuat penciptanya bisa di ikuti atau bisa dilanggar oleh panyanyinya, salah satu nya adalah tempo, tempo dalam lagu lah sebenarnya yang perlu dilatih dengan metronome. Aturan yang baku terhadap tempo, di berbagai festival (paduan suara) menyebabkan seorang conductor harus menguasai betul ketukan dari metronome tanpa mendengarkannya lagi.. sebab ndang acci be didoltuki meja molo nunga pas di panggung…

Kembali ke masalah metronome tadi… sekali sudah di “on” kan, maka dia akan terus berbunyi dengan tempo konstan tak ada improvement, tak acci melempem, kecuali habis batere, mate lampu atau rusak ….

Oke sekarang mari kita bahas kehidupan yang kita jalani dan apa hubungannya dengan metronom… ..
Sebenarnya di dalam kehidupan kita, kita punya metronom sendiri, ketukan yang konstan yang kita harus ikuti dan kita jalani dengan setia.
Siapa yang men-stel, siapa yang men-set??? yang jelas Tuhan Debata.
Cuman dalam kehidupan, metronom nya bisa berubah tempo, kadang lambat (sedih), kadang cepat (semangat atau marah), kadang tak menentu (pande_lean).. Saya percaya Tuhan tidak pernah menginginkan dan menciptakan Metronom yang menjerumuskan kita baca :

Roma 8 : 28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Dalam metronom yang cepat, kehidupan kita yang harus kejar target, pelayanan yang sangat padat, kita lupa untuk mengambil waktu yang berkualitas untuk bersekutu intim dengan Tuhan.

”Terlambat bangun, tidak sempat untuk saat teduh”
”Capek dan sudah larut, tidak usalah doa malam”
”Hari ini hasil penjualan kita menurun, kita harus bekerja di hari minggu”
”Hari minggu pagi tiba-tiba migren, ndak usalah ke ibadah”
”Aku harus mengerjakan proposal ini dan besok pagi harus selesai, tidak ada waktu untuk doa malam”
”Boss ku mengundang untuk makan malam dengan client, kita harus tunda nonton bareng dengan anak anak”

Kata kata seperti diatas tadi sering kita dengar (baca) dari kesaksian banyak orang, dan biasanya hal ini sudah menjadi hal yang lumrah bagi kita. Kita sepertinya sudah kehilangan prioritas

Tahukah kita, Yesus pun mengambil waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapanya, ada banyak fakta di Alkitab yang berkata demikian, salah satunya adalah yang berikut

Luk 1 : 35
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

Jadi secepat atau selambat apapun metronom kehidupan kita, kita tak pantas untuk bilang, ndak sempat nih bersaat teduh, salah lagu itu, atau ndang marmukmus penciptani lagu on.. atau malah bilang ”ganti lagu saja!!” terkadang kita diharuskan untuk menyanyikan metronom yang bukan kesukaan kita.... yang patut kita lakukan adalah (menurut saya dah..) :
1. Mengaminkan metromom kehidupan kita masing masing, karna semuanya mendatangkan kebaikan.
2. Mensyukurinya dengan sabar dan rendah hati, dan ambil waktu untuk menset lagi metronomnya dengan bersekutu intim dengan Tuhan.
3. Jangan memaksakan diri untuk ganti lagu, sebab belum tentu lagu yang baru membuat metronom kita lebih confort....
4. Kalaupun metronomku berdetak terlalu kencang, aku dengan sekuat tenaga akan bernyanyi dengan temponya....

Sekian...
Papa Angelo - Balikpapan

Rabu, 11 Agustus 2010

Marsidalian...

Marsidalian..
(bahasa batak : mencari cari alasan, untuk menghindar)

1 : “Cuci dulu baju mu itu nak..”
2 : “Ah, mamak lah yang nyuci, mau ujian aku ..”

“Kenapa tidak datiag tadi malam ke pertemuan”
”Iya nih, tiba tiba kuku jariku patah”

”Kenapa deadline target tidak terpenuhi”
”Ini Pak, minggu ini banyak gangguan network”

Ilmu mencari alasan sudah semua manusia menguasainya dengan baik, tidak heran, anak yang baru bisa ngomong saja sudah sangat piawai untuk marsidalian... Tidak heran juga kenapa itu bisa terjadi karna nenek moyang kita sudah mengajarkannya dengan sempurna.

Lihatlah Adam ketika dia diminta pertanggungjawaban oleh Tuhan mengapa ia memakan buah dari pohon pengetahuan di taman eden,,, dengan sangat cantik dia berkata, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."

Berlanjut lagi ketika Tuhan meminta pertanggungjawaban Hawa, maka dia berkata
"Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

Tidak diteruskan oleh Tuhan, seandainya Tuhan bertanya pada ular itu, maka aku yakin ular akan mengkambinghitamkan monyet, monyet mengkambinghitamkan gajah, gajah mengkambinghitamkan kambing... kesimpulannya sebenarnya, Tuhan tidak perlu menciptakan berbagai jenis binatang, cukup satu saja yaitu ”KAMBING HITAM”.

Saya menuliskan tulisan ini dalam kesedihan karna salah satu orang yang menginspirasikan kehidupan saya melalui tulisannya yang tidak KambingHitam, terlebih dahulu menghadap BAPA, tapi saya sadar bukankah kematian adalah keuntungan ?

Filipi 1 : 21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan

Beliau terlebih dahulu mengahadap BAPA untuk menikmati Istana yang indah bersamaNya. Disela-sela kesibukan yang cukup banyak, saya mencoba mengingat lagi apa makna yang harus kita dapatkan. Saya tidak mau rugi dengan bersedih, harus ada yang kudapatkan hari ini. Nah inilah yang menjadi inti tulisan ini.

Seringkali kita menilai seseorang dari cara matinya, bukan dari selama dia hidup. Ada yang bilang kalau meninggalnya karena kecelakaan maka pasti dosanya besar...daga..
Bulan lagu saya kehilangan istri dari sahabat saya yang kecelakaan motor dengan membawa 2 anaknya pada saat dia akan melayani di ibadah. Suaminya yang biasa bawa motor sedang diluar kota untuk mengikuti CAMP pemulihan kaum pria. Sempat saya bertanya, bukankah orang orang ini melayani Engkau Tuhan, mengapa ini terjadi pada mereka yang setiap hari duduk di dekatMu. Kemudian aku menemukan jawaban pada saat Pendetanya berkotbah saat ibadah penghibuan, ”jangan lihat cara matinya, tapi lihat cara hidupnya”. Bukankah para rasul juga banyak yang mati dipenggal dan disalibkan terbalik ?

Maaf sedikit melenceng dari judul, kembali ke masalah marsidalian,
Banyak sekali orang yang mengembangkan dengan baik ”talenta” marsidaliannya, bahkan Daud juga sangat pintar untuk mencari pembenaran atas apa yang dia lakukan terhadap Uria. Sekarang ini setiap hal yang kita kerjakan salah, kita akan sangat pintar untuk mencari pembenarannya,
pada saat menyalip orang dijalan - alasannya terlambat ke kantor
pada saat tidak mengangkat telp orang yang tidak kita sukai – alasannya low bat
pada saat terlambat ke kantor – alasanya telat bangun
pada saat menghindari tanggungjawab pelayanan – alasannya anak
pada saat menghindari cicilan utang – alasannya keperluan orang tua
Secara tidak langsung kita membuat orangtua dan anak kita menjadi ”KambingHitam”.

Orang baru saja menghadap Tuhan ini kukenal dari tulisannya yang terus terang, tanpa mencari pembenaran, dan sidalian atas suatu hal. Tidak ada hal yang lebih baik saat ini dari pada menghentikan semua sidalian dalam kehidupan kita. Sama seperti Yesus yang tidak mencari alasan pembenaran atas penyalibannya, sehingga orang Farisi sampai mencari alasan untuk mereka sendiri.

Markus 15 : 26 Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: "Raja orang Yahudi".

Sekali lagi moment ini tidak bisa disia-siakan, biarlah kita bisa menyebutkan hari ini ”Tanggungjawab berhenti disini” bukan cari sidalian lagi atas apa yang terjadi, kita alami dan kita perbuat.

Sebab setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.....(Mat 12 :36)


js
Thanks Oppung Sinar...

Selasa, 10 Agustus 2010

KALE KALE…



KALE KALE…
(bahasa batak yang berarti teman dekat)

Kale kale ku dulu waktu SMP dan SMA sekarang sudah pada berhasil semua. (Kali ini penggunaan bahasa batak di kurangi, asa songon na kota otik). Dan aku bangga karena teman dekat inilah juga yang turut membangun kehidupanku yang patut disyukuri. Dan akupun yakin sekali, seyakin jatuhnya air terjun di lae pandaro, bahwa sedikit banyak apa yang kami jalani bersama di masa lalu, berpengaruh terhadap keberhasilan mereka. Ada yang menjadi manager di perusahaan minyak multinasional, ada yang menjadi expert di perusahaan servis untuk industri perminyakan, dan ada pula yang menjadi PNS golongan tinggi.

Waktu kami dulu di SMA, rahasia seseorang akan yang lain seakan tidak ada. Karna terbuka satu dengan lain, Kalau seorang mendapat surat dari hallet nya, maka akan di baca bersama dan dibalas bersama pula... DAGAA!!!

Kalau itu surat putus yang menyebabkan si baoadi manimbung ke sembat... maka kami pun akan bersama sama manimbung ke sembat... sebutlah empati panimbungan...

Kawan karib seharusnya tidak mempunyai banyak lagi hal yang disembunyikan, dari mulai berat badan sampai nomor sepatu, dari mulai hobby sampai makanan kesukaan, bahkan dari mulai jumlah uang kiriman waktu kuliah sampai utang waktu kalah berjudi... lagi lagi DAGA !!!

Apa yang membuat kita tidak merasa malu untuk membagikan kehidupan kita dan berbagai rahasia kita. Menurutku karena ada 2 hal :
1. Bergaul Karib, karib dalam kamus Besar Bahasa Indonesia berarti 1. dekat (tt hubungan famili); 2 rapat dan erat (tt persahabatan dsb)

2. Sudah Percaya, Percaya menutur KBBI salah satunya adalah menganggap atau yakin bahwa seseorang itu jujur (tidak jahat dsb)
Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, masitiop kunci na be....

Baiklah renungan kali ini akan membahas satu ayat yang luarbiasa dari kitab mazmur, ayat ini sering dijadikan menjadi ayat mengenai covenant, atau perjanjian dengan ALLAH.
Dengan tidak menggunakan bahasa tingkat tinggi, ayat ini akan diterjemahkan berhubungan dengan kale-kale tadi.

Mazmur 25 : 14
TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

Hahahahhhaaa. Ternyata kunci untuk bisa mengetahui rahasia Allah, hanya cukup berkale kale denganNya... Berkale kale artinya percaya dan melakukan kehendakNYA. Bukankah pengharapan kita menjadi hidup sebab rahasiaNya sudah diberitahukanNya.

Maka jadikan lah ALLAH dan FirmanNya menjadi kale kale kita di pagi siang dan malam hari, pelajarilah pribadinya dan hahomionNya...Kuyakin sunggung satu hari kita akan bersama sama membaca surat bersama sama dengan Yesus, main bola dan nonton Piala Dunia dengan Yesus, bahkan membuat milis kale kale dengan Yesus...

Selamat Berakhir Pekan dan Tuhan Memberkati
Amen......

Daga !!!
js

si tomas

Si Thomas…

Suatu hari saya mendapatkan sms dari teman yang isinya seperti ini :

Seorang Pendeta beserta jemaatnya sedang mengadakan doa khusus agar hujan turun, supaya terbebas dari kekeringan.

Dengan semangat dan serius Pendeta bertanya kepada jemaatnya, “Saudara PERCAYA hari ini pasti turun hujan ?”

“Amin…. PERCAYA !!!” jawab jemaat serempak

Pendeta kembali bertanya, “Saudara yang kekasih, kenapa Saudara tidak membawa PAYUNG… bila percaya ?”

Saya menjadi teringat tentang firman yang kira kira berbunyi apa bila kita memiliki iman sebesar biji sesawi, maka gunung sibayak pun bisa kita pindahkan. Kemudian saya penasaran juga, sebesar apasih biji sesawi itu, saya coba googling dan ternyata biji sesawi itu lebih kecil dari andaliman lebih identik (dari segi ukuran) dengan wijen … daga..


Cerita mengenai iman juga sangat menggelitik, pada saat Yesus mati dan bangkit dari kubur, selama 40 hari Dia kemudian “berpetualang” di dunia dan menunjukkan diriNya kepada orang orang termasuk murid-muridNya. Tetapi apa respon mereka ?
Mereka tetap TIDAK PERCAYA kalau Yesus adalah orang yang mereka temui.

Markus 16 : 11 Tetapi ketika mereka (orang orang yang mengiring Yesus) mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.

Markus 16 : 14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

Pertanyaan berikutnya adalah, mereka yang sudah lebih dari 3 tahun berjalan bersama Yesus, makan dan tidur bersama, menyaksikan mujizat demi mujizat mendengar pengajaran langsung dari Yesus, juga pasti sudah mendengar dari Yesus sendiri bahwa anak manusia akan mati dan bangkit, lalu mengapa mereka juga susah untuk PERCAYA ? bahkan Thomas berkata demikian (Yoh 20 :25) "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."


Susah untuk mempercayai kebangkitan Yesus ternyata berhubungan dengan apa yang mereka (murid-murid Yesus) kerjakan sebelum Yesus di tangkap di bukit Getsemani (Mat 26 : 36 – 46). Di perikop ini secara singkat diceritakan 3 kali Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa dan dia meminta murid muridNya untuk berjaga jaga dengan Dia, ternyata 3 kali pula murid murid nya tertidur dan tidak berjaga jaga. Di ayat lain disebutkan bahwa berjaga-jaga itu identik dengan berdoa
Markus 14 : 37 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah."


Bahasa sederhananya adalah : berdoalah tidak jemu-jemu supaya jangan masuk input-input negative yang menutupi mata rohani mu dan mengurangi iman percaya mu..

Ternyata murid murid Yesus tidak mempercayai kebangkitan Yesus (sebagai primari respons) adalah di sebabkan karena meraka tidak sanggup untuk berjaga jaga dan berdoa.

Terkadang apa yang terjadi dengan respons kita pada saat menghadapi tekanan memunculkan sisi yang lain dari diri kita, adong do hutanda ndang boi di lewati motor na asing di dalan, sai hira na talu mar-tuo dihilala, pittor di siksing lari 100 asal ma motor na di jolo.
Ada lagi teman saya yang sangat emosi apabila gelarnya tidak disebutkan pada saat pemanggilan di antrian Bank... ”insiniur Tarbukken”..... ndang boi lokkang Insiniur nai...
Ada banyak respon kita yang salah pada saat kita mendengar orang berkata gossip tentang kita atau keluarga kita, ”Pittor di torui do sahat tu banua holling..” Respon respon ini hampir sama dengan respon ketidakpercayaan murid murid Yesus saat mereka pertama sekali melihat Yesus bangkit dari kubur.

Saya pikir hari-hari ini kita harus tetap melaksanakan hal hal sebagai berikut
Berjaga-jagalah senantiasa dalam doa agar input negative tidak menutup mata rohani kita.
Bukan masalah benar atau salah, yang penting adalah respon, mari mencoba untuk meresponi segala sesuatu dengan positif tanpa menyalahkan dan mencari alasan untuk menyakiti.
Minta agar Tuhan memberi kita kapasitas iman yang lebih besar dari biji sesawi sehingga gunung gunung masalah, berhala, kekhawatiran terangkat dari dalam kehidupan.

Selamat Tengah Minggu
Tuhan memberkati
js

Marbulut-bulut..


Marbulut-bulut..
LOVE AND CARING (sebuah khayalan religi)
js - balikpapan
(Kalau punya waktu 20 menit,.. silahkan dibaca)

Dengan segelas kopi sidikalang diatas diatas meja dan beberapa gadong julur rebus di piring kaleng bekas sialabane yang tertinggal waktu pesta pandidion nabadia dari cucunya yang paling kecil bulan lalu, si oppung doli memulai kenangannya tentang beberapa peristiwa yang pernah singgah di benaknya beberapa puluh tahun silam.

Benaknya mulai bercerita diawali dengan 2 orang sahabat yang tumbuh bersama dalam suatu kondisi keprihatihan yang berbeda, sebutlah si Palias dan si Tarbukken….

Palias anak satu satunya dengan kemapanan sosial yang baik, sebagai imbas dari kerja keras orang tuanya, tumbuh dikalangan berada anak dari seorang TNI berpangkat Letnan Kolonel, dididik di keluarga yang taat dan bertumbuh secara rohani dengan baik. Ayahnya sangat mengerti betul fungsi seorang imam dalam keluarga, sehingga setiap detil kehidupan anak-nya diperhatikan dan dikawal dengan senjata yang paling powerful yaitu doa. Bahkan diusia sangat muda, altar keluarga sudah dibangun di sudut ruang makan rumah mereka. Tidak heran Palias tumbuh menjadi remaja yang penuh percaya diri, berprestasi tetapi rendah hati…

Tarbukken, anak pertama dari 6 bersaudara (lelaki semua) bertumbuh dari keluarga yang sangat pas-pasan, Bapaknya bekerja sebagai tenaga angkutan beban di pasar di kota mereka, sedangkan ibu-nya mencoba untuk menambah nafkah keluarga mereka dengan berjualan godok godok dan mie gomak setiap hari pekan di pasar yang sama tempat ayah mereka bekerja.. Beban yang Tarbukken rasakan dimasa remajanya sudah sangat berat, sebab sebagai anak sulung, dia bertugas memimpin “tim futsal” adik adiknya, sekaligus tempat “curhat” ayah dan ibunya pada saat berselisih paham, tanpa mereka berkata secara langsung.
Perkenalan mereka berawal ketika Palias mengatar ibunya berbelanja di pasar dimana saat yang bersamaan Tarbukken membantu ayahnya sebagai kuli pikul di pasar tersebut…
Dengan tidak sengaja, ayah Tarbukken yang lagi memikul belanjaan “klien”-nya menyenggol kaca spion mobil dari Palias.

“Braaakkkk”… spion mobil Daihatsu Zebra 1.3 -nya patah…

Benak si Oppung doli tiba tibar terlantur ke tempat yang jauh berbeda, dan waktu yang jauh berbeda pula, seorang “manusia” yang berusia sekitar 30 tahun, bernama “JC” mulai memanggil pengikut setianya yang biasa di sebut murid-muridnya, para nelayan yang sedang memancing disuruhNya untuk meninggalkan pekerjaan untuk datang mengikut Dia menjadi penjala manusia. Tidak ada iming-iming harta yang “JC” berikan, tidak ada suap, bahkan tidak perlu pake pendekatan dengan meminta tulang dari si Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohannes, Yudas dll, untuk menasehati mereka agar ikut Yesus. Mereka berjalan bersama setelah terkumpul 12 orang dari satu daerah ke daerah lain untuk mengabarkan kabar kesukaan.

Suatu pertanyaan yang barangkali menggelitik :
Pada saat Yesus dan murid muridNya mengerjakan pelayananNya, siapakah yang mencuci piring dan baju-baju mereka ??
Siapakah yang memasak makanan mereka ?? saya yakin pada saat itu belum ada warung padang atau KFC yang tinggal beli dimana dan kapan pun.
Simpan dulu jawabannya… mari kita kembali ke sarita Tarbukken..

”Amangaoi amang... mate ma au” seru ayah Tarbukken

Dia tahu kalau dia yang salah saat berjalan terlalu dekat dengan pintu mobil Zebra tersebut. Spontan di terjatuh ditindih oleh goni berisi kelapa, bukan karena kaget, tapi karna dia langsung terbayang, apa yang harus dia perbuat untuk bisa mengganti kaca spion yang patah itu, sementara gajinya hari ini sudah tersita untuk biaya sekolah Tarbukken yang sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir.
”Na mahua do hamu amang, na tarsilandit do ?” Palias berseru spontan.
(Sungguh jarang spontanitas yang positif kita dengar akhir-akhir ini, biasanya yang pertama kali keluar umpatan kekesalan ditambah kebun binatang).

Mendengar perkataan Palias, ayah Tarbukken seakan ter-charge keberaniannya untuk bangkit dan berkata..
“Na marangan-angan do au, hape ndang póla hubereng nunga hona kacca spion nai”
“Boha ma ateh, boi do pe tahe di pature i “? Ayah Tarbukken menlanjutkan.


Sementara sarita “JC” masih terus membayang di benak oppung doli (selanjutnya di sebut odol). Odol membayangkan, mereka berjalan dari seluruh Yudea, Galilea dan Nazaret, di sambut sebagai raja, dan sering kali dicemooh. Banyak orang yang bisa langsung menyaksikan keajaiban penyembuhan, yang tuli mendengar, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, tetapi tidak semua yang melihat percaya. Sama seperti yang kita alami sekarang,

Banyak hal muzijat yang dialami manusia, tapi tidak semua orang bisa percaya dan mensyukurinya.

JC dan keduabelas muridnya mengahabiskan waktu mereka selama lebih dari 3 tahun bersama-sama, dimana pola memuridan yang sejati dijalankan (guru tinggal di dalam kehidupan murid murid nya)..
Kembali ke 2 pertanyaan diatas, hal memasak , mencuci baju dan melayani. Saya berpendapat, Yesuslah yang melakukan semua perkerjaan itu, sebab di banyak nats tercatat diantara mereka Yesuslah yang pertama kali bangun pagi pagi sekali dan berdoa, saya membayangkan sehabis berdoa, Dia memasak sarapan, mencuci baju para muridNya dan membangunkan mereka dikala segala sesuatunya sudah siap.


Dengan lembut Palias menjawab “ndang pola boha i Amang, toe ma ndang adong pola si gantion, asal ma ndang pola tar-alit Amang” sambil membantu mengangkan goni berisi kelapa tadi dan menepikannya..
Sedari tadi dengan hati yang kacau, Tarbukken memperhatikan dari dekat dan siap siaga membantu ayahnya apabila si pemilik mobil memilih untuk menghakimi ayahnya. Melihat semuanya berjalan positif, Tarbukken berlari mendekati ayahnya dan memapahnya ke tempat yang teduh.. Tak ketinggalan Palias membantunya dan kemudian mereka berkenalan dan menjalin persahabatan yang sangat erat.

Seringkali persahabatan (sesuatu) yang baik, dimulai dari suatu respon (reaksi) kecil yang positif.

Kembali ke cerita Yesus dan murid muridNya. Saya percata bahwa Yesus adalah pribadi yang konsisten terhadap perkataanNya, sehingga kalau Dia pernah berfirman :

Markus 10:45
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Maka Dia akan menjalankannya tanpa memandang ke-konstektualan. Ada ayat pendukung bahwa Yesuslah yang mempersiapkan sarapan murid murid Nya (baca Yoh 21 : 1 -14 Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias).

Tuhan kita adalah pribadi yang Konsisten.

Palias dan Tarbukken hampir setiap hari menghabiskan waktu mereka bersama setelah usai jam sekolah. Mereka berdiskusi, bermain, martandang dan belajar bermain gitar, sampai sampai beberapa gadis seusia mereka sangat tertarik akan keahlian gitar Tarbukken dan Palias, mereka sering membawakan lagu ”Keberbahagia yakin teguh”, sahalak mamiltik, sahalak nai mangarambas...
Sampai suatu malam mereka mentas di malam kesenian di aula Kabupaten, duet gitar mereka bagaikan Dewa Bujana + Andra Dewa19. Banyak sekali orang yang memberikan apresiasi dan tepuk tangan yang gemuruh, seluruh unsur muspida dan DPRD bahkan berdecak kagum oleh kekompakan mereka.
Tetapi di sudut aula tersebut masih ada segelintir orang yang merasa terusik karena keahlian mereka, tidak tahu sebabnya apa, mungkin iri.. 5 orang anak muda seusia mereka, yang membentuk geng motor bebek C70, merencanakan sesuatu yang jahat. Mereka merencanakan akan menghukum si dua sahabat karna talenta mereka huhhh ironis...

Bahkan dengan talenta kita ditambah kerendahan hati, masih tetap ada orang yang tidak menyenanginya.


Yesus menjelang hari hari penyalibanNya Dia semakin intensif memberikan teladan bagi muridNya. Bahkan Dia membedakan mereka dari khalayak ramai yang mengikutiNya. Sebab kepada orang banyak Dia sering kali hanya memberikan perumpamaan, tetapi kepada murid-muridNya, Dia memberitahukan rahasia kerajaan Allah. Pun diwaktu tida membasuh kaki para muridNya, apakah maknanya ?
Sesungguhnya pada jaman tersebut, ada beberapa tingkat hamba, atau hatoban, di segregasi berdasarkan usia dan kemampuan (kekuatan). Yang masih kuat dan togar, ditempatkan di ladang, pekerjaan mangombak dan marmahan, yang badan samekot tapi bijak, di tempatkan di lumbung, yang garang dan jongir ditempatkan di perbatasan dengan ladang orang lain, tetapi na suda gogo, matua atau sakit, atau keduanya, ditempatkanlah di depan pintu rumah tuannya yang bertugas khusus untuk membasuh kaki tamu-tamu tuannya sebelum masuk ke rumah... Posisi hatoban inilah posisi yang paling rendah di level parhatobanon. Kalau di ”kasta”kan, on ma goarna ”sisambor nipi”.

Pada saat Yesus membasuh kaki muridNya, Dia yang Agung, memposisikan diriNya sebagai level terendah dari hamba. Artinya ndang adong be di toruni on. Apa yang Dia perbuat sebenarnya suatu contoh dari komitmen pelayanan, Nilai nya :
Tak perduli apa posisi kita di masyarakat, bahkan orang terpandang sekalipun, dalam hal pelayanan Tuhan melihat hati. Dalam hal pelayanan, sering kita masih membawa status sosial yang kita punya, bahkan ada orang yang tidak bisa summit (tunduk) lepada pemimpin gereja, hanya karena pendetanya lebih muda dari usianya. Molo nga biasa di halang ulu, attar songon na maol do gabe penerima tamu di gareja J
Peristiwa pembasuhan kaki merupaka suatu gambaran pembelaan terhadap manusia. Allah Yesus mencintai menusia sehingga Dia rela melakukan apa saja untuk menyucikan kita. Teladan ini seharusnya kita ikuti at least kita tiru sedikit ketika melayani dan bermasyarakan. Yesus yang 100% manusia, mengesampingkan ego nya untuk mengangkat dan membela kita. Pribadi yang luar biasa.

Saya juga sedikit berpikir dan menghayal, kira kira apa kalimat yang di sebutkan Yesus saat Dia membasuh kaki murid/murid Nya ?


Lamunan odol cembali ke sarita Tarbukken
Malam itu setelah memenangkan hati para penonton Tarbukken dan Palias merasa sangat manusia, bahkan tanpa memperdulikan sekelilingnya, mereka berdua berjalan pulang setelah malam pertunjukan tersebut dengan masing masing menenteng gitar yang di gantung di leher dan terus memainkan lagu duet maut mereka.
Tidak mereka sadari, 5 pasang mata mengikuti mereka dan siaga untuk mencegat dan mencelakakan mereka. Di persimpangan jalan, yang lampu jalannya sudah rusak terkena tumpukan kayu dari pengankut alpik yang kelebihan muatan, ke 5 berandal tersebut menghentikan langkah si 2 sahabat.

“Hei, sobbong kali klen, mentang mentang jago main gitar ya”… berandal pertama berseru
belum ada respon dari kedua sahabat, berandal kedua berkata

“Kalau kita patahkan satu tangannya, paling bisa ngupil aja mereka”…

Dengan lembut Palias menyahut.
”Kenapa kawan, kenapa kalian berkata seperti itu”
”bah, lancang kali kau, bilang aku kawanmu, jangan mentang-mentang anak tentara jadi lomo lomom” berandal 3 menimpali.

”Bukkkkkk, Bukkk, Bukk” si Palias terpental kena tinju kombinasi cubit dari berandal 4.
Ketika Tarbukken ingin membantu
Ulunya kena lotak kayu dari belakan... plaaaakkkkkk, langsung boccor dan marmudar....

Kedua sahabat terjatuh di aspal yang berlobang, karena memang jalan nya belum di perbaiki, katanya jalan negara, jadi masih tunggu ABPN nya cair. Wajah mereka terkena air di kubangan jalan raya, dan gitar ramirez nya solot di ramba-ramba.
(maaf, agak susah mendramatir, adegan marbadai, ala ndang parbadai iba..qiqiqiqiqiqi).

Jangan pernah main gitar sambil jalan di jalan yang ngga ada lampu jalannya.

Si odol tehenyak dari lamunannya ketiga partiga koran datang dan berkata ”koran oppung !!!”
”toe ma, toe ma, sogot ma hutuhor da, ro nama kiriman ni anakku” kata si odol menyahut. Lamunannya berlanjut ke peristiwa cuci kaki, memang di Alkitab sebelum mencuci kaki murid murid nya, Yesus berkata beberapa kalimat seperti

Matius 13 :8
"Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."..

dan saya membayangkan juga, apa kata-kata lain yang Yesus ucapkan, pada saat Dia menghamba, barangkali Dia juga berkata..

”Simon Petrus (bisa diganti dengan nama sendiri), jika selama lebih dari 3 tahun pelayanan kita ada kesalahan dan kekecewaanmu yang Ku perbuat, ampuni Aku !!’

mungkin Yesus juga mengangis seperti saya setiap kali menuliskan, berkothbah tentang hal ini..

Apakah Yesus pernah bersalah pada Simon Petrus (pada kita) ?
Apakah Dia pernah mengecewakan kita ??

Tidak juga, He is too perfect.... Sehingga poin yang ketiga dan keempat dari nilai pembasuhan ini adalah :

Dia menyucikan kita yang hinam dan sekaligus membuat garis pembatas antara yang benar benar mengasihiNya dan yang menghianatinya (baca Yohannes 13 : 1 – 20).
Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya


Dengan berlari Tarbukken meraih gitar yang tarsangkot di ramba-ramba dan dengan membabi buta memukulkannya ke pepala para berandal…

“Mallapak !!!!!!”,.. seorang tersungkur jatuh dan diam tak bernyawa.
Melihat hal itu, keempat berandal lainnya mallojong terbirit birit, bagai huting menyeberang lae simbolon…..

Melihat ada korban yang meninggal, si Tarbukken shock, tu penjara nama au, dia masih sempat ingan lagu Jack Marpaung yang judulnya “Kamar 13”.
“ Tenang Ken…” si Palias bekata lirih, sementara dia sendiri juga sudah hampir pangsan.
“Larilah sejauh mungkin, sebelum orang melihatmu” Palias melanjutkan..
“Bah… tupenjara nama au Pal !!!!” sambil menangis Tarbukken menjawab.
“Cepatlah lagi, lebih baik hanya satu diantara kita yang masuk penjara dari pada keduanya” seru Palias.
“Lagian, mungkin bapak ku, akan menolongku” dia berharap pangkat Letkol bapaknya bisa menyelamatkannya dari hukuman.
Tarbukken dengan bimbang berlari jauh dan jauh sekali sampai akhirnya tidak kelihatan lagi. Orang orang mulai berdatangan dan polisi tiba di TKP, dan menangkap Palias yang diduga melakukan pembunuhan…. Tragis…
Di laporan BAP, Palias mengaku, dialah yang memukulkan gitar tersebut ke kepala korban, sedangkan keempat berandal yang lain juga tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Yang sangat mengagumkan dari sosok seorang AYAH, ayahnya Palias, berkata
“Nak, papa tidak bisa menolongmu untuk menebus kesalahanmu, tapi papa akan selalu ada mendukungmu sampai kamu berhasil mengatasi masalah ini”

Dukungan terbaik seringkali bukan menutupi kesalahan, tapi selalu ada disisinya ketika dia mengahadapi tantangan.

Udah hampir selesai ini !!!, sikit lagi ya amang- inang.

10 tahun berlalu, Palias keluar dari penjara tanpa pernah bisa kuliah, di usia 30 tahun, dia menjadi mantan narapidana na burju. Ayah dan Ibunya, meninggal dalam suatu kecelakaan mobil di lae renun. Keduanya meninggal pada saat dia menjalani hukuman tahun ke 7.

Warisan dari orang tuanya berupa karakter yang baik, melebihi warisan kebun kopi dan durian yang berhektar hektar. Palias hidup menjadi petani yang cukup berhasil, mangalap boru Sianturi, beranak dan bercucu. Tidak ada dendam dalam kehidupannya (pada Tarbukken maupun keempat berandal), sehingga sukacita selalu bersama keluarganya,

Lamunan si odol terhenti ketika sebuah mobil Toyota Fortunner berplat B 123 A, berhenti di depan rumahnya, Seorang pria 60 an tahun turun dan langsung berjalan ke arah si odol yang lagi duduk.

”Tarbukken, ai ho do i”... seru si Odol yang adalah Palias…
“Ido, au do i kales….. maafpon ma au na saleleng on ndang hea menghubungi lakkam” jawab pria 60-na tahun itu yang tidak lain Tarbukken.
Setengah jam mereka hanya diam dan saling menangisi, sebuah persahabatan yang sejati.

Kisah mencuci kakipun diakhiri dengan materpiece Tuhan Yesus di kaki salib, sehingga setiap orang yang mengasihiNya terbebas dari maut... Sebuah pengorbanan sahabat yang maha dasyat...

I love you Jesus fulll.
Balikpapan 14 /04 /2010
Js – papa angelo